Senin, 19 Oktober 2015
Sabtu, 04 April 2015
(Suatu Pendekatan Bottom-Up)
oleh ; Dudi Septiadi
Kemerdekaan menjadi isu penting dalam setiap diskursus para intelektual dan pakar di Indonesia. Kita ketahui bersama, proklamasi kemerdekaan telah kita raih tidak dengan cara yang mudah, kemerdekaan kita rebut dengan penuh perjuangan melawan kelonialisme, imperialisme hinggga diktatorisme. Hampir 70 tahun Negara kita menyatakan diri sebagai Negara yang merdeka, lepas dari penjajahan bangsa-bangsa asing. kemerdekaan mejadi titik tolak bangsa dalam menyongsong masa depan yang cerah, tetapi benarkah kita sebagai bangsa sudah merdeka?
Secara kasat mata memang kita adalah bangsa yang merdeka, tetapi penulis beranggapan bahwa kita belum merdeka secara hakiki, terlebih ketika kita berbicara tentang kemerdekaan ekonomi. sebagai bangsa yang memiliki tujuan untuk mensejahterakan kehidupan segenap rakyatnya, tentu kita harus bekerja keras dalam mewujudkannya. Masih banyak rakyat kita yang hidup miskin, BPS (2013) mencatat sekitar 29 juta rakyat Indonesia masih hidup miskin, apalagi kalau kita mengukur kemiskinan berdasarkan pada angka kemiskinan world bank, maka hampir separuh rakyat Indonesia hidup digaris kemiskinan.
Salah satu lambatnya peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah karena pola pembangunan kita yang jarang melibatkan masyarakat langsung dalam mengembangan dirinya untuk mampu hidup mandiri, pemerintah lebih berorientasi dengan teori trickle down effect, atau dengan pendekatan top – down lebih dominan dalam pembangunan di indonesia. community development (pengembangan komunitas) sebenarnya bisa menjadi salah satu alternatif solusi untuk mepercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat, karena pembangunan kesejahteraan ini dilkaukan dengan menggunakan pendekatan bottom – up. Dorongan kuat yang menyebabkan perlunya pengembangan komunitas yang pertama adalah kesenjangan perolehan pendapatan, meningkatnya jumlah penduduk miskin dan pertumbuhan jumlah pengangguran angkatan kerja produktif yang diakibatkan oleh pelayanan publik yang kurang efektif dan efisien jika pemenuhannya diupayakan secara sentralistik (top-down). Jalur birokrasi yang begitu panjang di dalam pranata negara tidak mampu bekerja secara efektif dan efisien untuk berbagai hal. kemudian yang kedua adalah pola pembangunan industri yang kapitalistik yang diadopsi oleh hampir semua negara telah menciptakan masyarakat industrial yang kehilangan identitas komunitas karena hancurnya struktur komunitas terutama komunitas tradisional, keduanya adalah beberapa di antara indikator yang dapat digunakan untuk menunjukkan urgensi pembangunan berbasis community development.
Secara umum community development (pengembangan komunitas) dapat didefinisikan sebagai kegiatan pengembangan masyarakat yang memiki tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat dalam mencapai kondisi sosial-ekonomi yang lebih baik. Sehingga masyarakat di tempat tersebut diharapkan menjadi lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraan yang lebih baik.
Community Development adalah suatu proses yang merupakan usaha masyarakat sendiri yang dipadukan dengan peran pemerintah dalam meningkatkan kondisi sosial, budaya dan ekonomi masyarakat, mengintegrasikan komunitas/masyarakat kedalam kehidupan nasional dan mendorong kontribusi masyarakat bagi pembangunan nasional. Program Community Development memiliki tiga ciri utama, yakni ; berbasis masyarakat (community based), berbasis sumber daya setempat (local resource based) dan berkelanjutan (sustainable).
Dua sasaran yang ingin dicapai dalam community development yaitu: sasaran kapasitas masyarakat dan sasaran kesejahteraan. Kedua sasaran tersebut dapat dicapai melalui upaya pemberdayaan (empowerment) agar anggota masyarakat dapat ikut dalam proses produksi atau institusi penunjang dalam proses produksi, kesetaraan (equity) dengan tidak membedakan status dan keahlian, keamanan (security), keberlanjutan (sustainability) dan kerjasama (cooperation), kesemuanya berjalan secara simultan.
Asumsi dasar yang dibangun pada cara kerja community development adalah masyarakat/komunitas dapat mengembangkan kapasitasnya untuk menghadapi masalah-masalah mereka sendiri, karena pada dasarnya orang-orang pasti ingin berubah dan mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya. Kemudian dalam melakukan perubahan masyarakat perlu berpartisipasi dalam pembuatan, penyesuaian, dan pengendalian perubahan penting yang terjadi dalam komunitasnya, sehingga perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat berdasarkan kepada self-imposed dan self developed, dimana memiliki pengertian dan ketetapan bahwa perubahan yang dipaksakan tidak dapat dilakukan, artinya perubahan didasarkan pada kesadaran utuh masyarakat.
Ditengah pembangunan pada Negara demokrasi seperti Indonesia, pembangunan membutuhkan sebuah pendekatan yang holistik agar berhasil dalam mengatasi permasalahan yang kompleks, serta membutuhkan partisipasi dan tindakan yang kooperatif masyarakat, dan masyarakat harus mempelajari berbagai keterampilan yang membuat masyarkat memiliki keunggulan komparatif. keterampilan inilah yang nantinya membawa masyarakat mampu menggali potensinya secara bersama-sama dan mampu memandirkan diri sendiri agar mampu mengangkat taraf hidup kesejahteraannya secara mandiri. meskipun pada umumnya orang-orang membutuhkan bantuan dalam pengorganisasian untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, karena sebagai individu tentu membutuhkan bantuan dalam mengatasi kebutuhan individualnya. disinilah peran penguasa (pemerintah) dan pengusaha (wirausahawan) berperan dalam memampukan masyarakat dalam pengorganisasian community development yang ada.
Pemerintah memiliki peran regulator yang melakukan pengaturan dan peraturan (regulasi), pemerintah harus mampu mendorong perilaku pengusaha industri saat ini agar mampu memanfaatkan resource dan melakukan aktivitas industri bersama dengan masyarakat sekitar (lokal), agar terdapat azas kemanfaatan dengan catatan menjaga lingkungan, karena secara natural pengusaha akan melakukan eksploitasi untuk memaksimumkan profit. selain regulasi, pemerintah juga berperan dalam melakukan pelayanan public kepada masyarakat. Disinilah peran pemerintah dalam melakukan local empowerment (pemberdayaan lokal) dengan menggunakan metode kemitraan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas keahliannya untuk menggali potensi sumber daya lokal serta mendorong masyarakat agar mau bekerja sama dengan pengusaha dalam pengembangan community development.
Harmonisasi dalam pengembangan community development akan menghapus sekat-sekat dominasi, kekhawatiran akan adanya dominasi antara penguasa dan pengusaha tanpa melibatkan masyarakat lokal yang berakibat kepada penciptaan kemiskinan dan tercabutnya resource dari sebuah wilayah tanpa menikmati azas kemanfaatan tidak akan terjadi.
Dalam paradigma pembangunan community development, pembangunan berkelanjutan dimana diartikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhannya, mempunyai 3 pilar utama (pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan & keberlanjutan) yang bersumber dari dua gagasan penting yaitu gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan esensial masyarakat miskin yang harus diberi prioritas utama. serta gagasan keterbatasan, yang bersumber pada kondisi teknologi dan organisasi sosial masyarakat terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan hari depan.
Jadi dalam paradigma ini tujuan pembangunan harus diupayakan dengan keberlanjutannya yang artinya pembangunan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan masa kini, akan tetapi mengusahakan agar keberlanjutan pemenuhan kebutuhan tersebut juga mampu dinikmati dimasa yang akan datang untuk generasi kemudian.

Rumah Kreasi Bumi Siliwangi, Comdev BEM REMA UPI

Rumah Kreasi Bumi Siliwangi, Comdev BEM REMA UPI
Minggu, 21 Desember 2014
![]() |
| H. Abdul Mukit, SH. (Ayah) |
Seperti biasa, Bogor sore hari ini hujan deras..
Tetiba merindukan sosoknya yang kuat dan tegar..
Dialah yang selalu pasang badan dikala kita berada dalam
ancaman..
Menjadi pelita dalam tiap gelapnya kesulitan..
Dia sosok yang mengajari kita tentang makna kerja keras dan
teguh berpendirian..
Kadang ia tidak bisa mengutarakan cintanya secara verbal..
Hanya tersenyum sayu dibalik wajahnya yang teduh..
Dari ketegasan sikapnya..
Dia ajarkan kami ketulusan cinta yang sesungguhnya..
Engkau lantunkan shalawat nabi menjelang waktu tidur..
Penuh kesabaran mengajari kami cara shalat dan pentingnya berjamaah..
Mengajak kami untuk selalu menebar kebermanfaatan..
Hingga mengajarkan banyak hal tentang kepemimpinan..
Tak lupa,
Salah satu hal paling bahagia tentu melihatmu tersenyum bangga..
Terlebih melihatmu tak pernah absen memeriksa hasil ulangan..
Mengomentari buku raport dipenghujung semester..
Dengan (maaf) bangga kau ceritakan hasil buku rapor ku kepada kerabat
dan rekan kerja..
beruntung aku masih bisa bertatap muka dan hidup denganmu..
diluar sana banyak orang yang belum bisa bertegur sapa dengan
sesosok yang bijaksana..
Rasulullah pun tidak pernah tau seperti apa sosok ayahnya..
tapi Dia memulyakan sosok ayah dalam sabdanya..
Ayah, sudah begitu banyak jasa..
Bertumpuk-tumpuk pengorbanan..
Meski engkau hanya disebut sekali (ibu tiga kali) dalam hadist
rasul,
tapi namamu beribu-ribu kali terpatri didalam hati..
Kini, anakmu sudah beranjak dari remaja ke dewasa..
Rasanya banyak hal yang belum bisa kulakukan sepertimu..
Izinkan kami berkelana jauh..
Menapaktilasi pahit getir perjuanganmu..
Hingga kami mampu menyamai bahkan melebihimu..
Selamat hari Ayah..
dari Dudi, Fans beratmu..
pkl 15.04
bogor, 13 November 2014
Kamis, 06 November 2014
INDONESIA : Negara Beragama yang Sakit karena Industri Rokok
Posted by Unknown | 06.45 Categories: Pendidikan
Jebreeet….
Seketika media nasional dihebohkan
dengan aksi kontroversial salah satu
menteri kabinet kerja Jokowi-Jusuf Kalla yang baru saja dilantik, siapa lagi
kalau bukan Ibu Susi Pudjiastuti, tentu bukan saja karena beliau tamatan SMP tapi
bisa jadi Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, melainkan attitude nya sebagai pemimpin yang notabene panutan rakyat malah melakukan
perlaku yang kurang beretika. Seusai diumumkan secara resmi sebagai menteri oleh
Presiden terpilih di istana negara, susi dengan acuh merokok di istana negara yang notabene ruang publik dan sudah
ada Perda DKI yang menyatakan larangan merokok di ruang publik.
Tentu tullisan ini tidak akan membahas
panjang kisah menteri yang kontreversial itu, saya akan banyak bercerita
tentang fenomena rokok dan perkembangan penggunaan tembakau di indonesia. Tulisan ini juga dibuat tidak untuk
menyudutkan atau mencaci para perokok, hanya memberikan gambaran saja sejauh
mana dinamika industri rokok dan dampak sosial-ekonomi nya bagi masyarakat.
Sabtu, 14 Desember 2013
DEKLARASI PEMUDA INDONESIA MENOLAK PELANGGARAN HAM DI MESIR
Posted by Unknown | 19.08 Categories: Kemahasiswaan
BEM REMA UPI, BEM KEMA UNPAD, BEM KM UGM, BEM UNSRI, BEM UNS, BEM KM IPB, BEM UI, Forum Perempuan BEM SI JABAR, GAMAIS ITB, HIROKOBA,
Indonesia Tanpa JIL, KAMMI Wilayah Jawa Barat, HMI ITB, FSLDK
Indonesia Tanpa JIL, KAMMI Wilayah Jawa Barat, HMI ITB, FSLDK
Krisis Mesir dewasa ini
menjadi sebuah hal yang sudah di luar batas. Masyarakat sipil menjadi korban
dari keganasan militer Mesir, Sepekan ini kekerasan yang terjadi
telah menyebabkan 200 orang tewas dan menimbulkan polarisasi yang begitu dalam
di negara paling populis di dunia Arab. Militer Mesir menyerang masyarakat
sipil pada pukul dinihari ketika masyarakat sipil sedang duduk di jalanan, Mereka
tak menembak untuk melukai, tapi membunuh," ujar Haddad tegas kepada Reuters.
Penyerangan yang dilakukan oleh
pihak militer Mesir merupakan pelanggaran HAM berat dan salah satu bentuk
otoritarianisme pihak Militer Mesir yang seharusnya tidak dilakukan di era
demokrasi ini. Selain penyerangan terhadap masyarakat sipil, pihak militer
Mesir juga melakukan penggulingan terhadap pemerintahan yang sah, berdaulat dan
terpilih berdasarkan pemilu yang demokratis, hal tersebut sangat mencoreng proses
demokrasi yang dihormati oleh seluruh bangsa di dunia.
Jika kita melihat dari sejarah,
Mesir merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Negara Republik
Indonesia, namun sangat disayangkan melihat negara Indonesia sebagai Negara
Demokrasi ke-3 terbesar di dunia, dan negara yang pernah dibantu oleh Mesir
dalam memperoleh kemerdekaanya, malahs ampai sekarang Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) tidak menyampaikan pernyataan sikapnya secara resmi untuk memoderasi
terhadap konflik tersebut.
Melihat dari kasus tersebut yang
sudah menjadi isu internasional, sudah saatnya bangsa Indonesia untuk menyuarakan
suaranya dalam mendukung dan mendorong proses demokratisasi di Mesir.
Oleh karena itu kami atas nama
pemuda Indonesia menolak pelanggaran HAM di Mesir, menyampaikan
tuntuntan dan rekomendasi sebagai berikut:
1.
Mengajak kepada masyarakat dan
mendorong pemerintah untuk mengutuk keras pembantaian rakyat Mesir yang
dilakukan oleh aparat militer Mesir.
2.
Mengajak kepada masyarakat dan
mendorong pemerintah untuk Menolak segala bentuk otoritarianisme di era demokrasi.
3.
Mendesak Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono untuk berada dalam baris terdepan
menyikapi konflik horizontal yang terjadi di Mesir.
4.
Mengajak masyarakat dan mendorong
pemerintah untuk mendukung proses demokratisasi di Mesir.
5.
Mengecam keras pembredelan media dan
pers sebagai infrastruktur demokrasi di Mesir, serta menghimbau media nasional
maupun internasional untuk turut berperan aktif dalam proses perdamaian di
Mesir.
Bandung, 1
Agustus 2013
Atas nama
Pemuda Indonesia
Kamis, 12 Desember 2013
Press Realeasse Aksi Tolak UKT dan Selamatkan Mahasiswa Penangguhan
Posted by Unknown | 23.16 Categories: Kemahasiswaan
Perlu kita ketahui dengan diterapkannya
sistem UKT di UPI ini bukan memberikan solusi seperti yang digembor-gemborkan
pemerintah melalui mendikbud. namun ini memberikan kerugian dan masalah baru
bagi seluruh Mahasiswa Indonesia khususnya UPI. yang paling mengerikkan di UPI
ini ada UKT yang mencapai Nominal 9juta Rupiah per semester, seperti Jurusan
IPSE dan Keperwatan UPI. Pada hakikatnya UKT ini pernah diterapkan dan
dijadikan system pembayaran oleh Universitas Indonesia. Namun Kebijakan
Kemendikbud dan DIKTI lah yang mengharuskan seluruh PTN menggunakan system
pembayaran UKT yang kami menilai sangat merugikan. Memang pada awalnya konsep
UKT ini Ditentukan besaran UKT ini berdasarkan Kondisi Ekonomi Keluarga, Dengan
TUJUAN Meningkatkan Angka Partisipasi Masyarakat di Jenjang Pendidikan Tinggi.
Namun
KENYATAANNYA dilapangan UKT itu ;
-
UKT
yang diberikan TIDAK SESUAI dengan Kondisi Ekonomi Keluarga
-
HANYA
mempertimbangkan PENGHASILAN Orangtua, dan JUMLAH TANGGUNGAN KELUARGA dll TIDAK
DIPERTIMBANGKAN
-
AKIBATNYA,
RATUSAN MAHASISWA harus menempuh PENANGGUHAN dan TERANCAM CUTI PAKSA
Efeknya
banyak mahasiswa yang tidak mampu membayar UKT (Jalur SNMPTN dan SBMPTN) dan
biaya pangkal (Jalur SM). Pihak Universitas memberikan tenggang waktu sampai
tanggal 13 Desember 2013 yang mana apabila tidak bisa melunasi pembayaran UKT
ini Mahasiswa diancam Sanksi Akademik berupa Cuti Paksa, Ironis dan Miris!!!
Sampai saat ini ada 217 Mahasiswa yang terdata untuk mengajukan Penangguhan
Pembayaran UKT dan Biaya Pangkal. Tiga belas Desember dua ribu tiga belas ini
seperti Bom Waktu yang siap meledak pada tanggal itu dan mengakibatkan
kegelisahan bagi Mahasiswa yang tidak bisa melunasi pembayaran biaya kuliah di
UPI.
Oleh
karena itu kami dari Republik Mahasiswa UPI menuntut ;
-
Menganulir
Kebijakan UKT sepenuhnya
-
Memberikan
Solusi untuk Mahasiswa yang tidak mampu membayar SPP UKT dan uang Pangkal
(jalur SM)
-
Menolak
Kebijakan Cuti Paksa untuk Mahasiswa tidak mampu membayar biaya kuliah
CP
: Asep Yendi Desyandi 085723983400 (Koordinator Aksi)
Dudi Septiadi
089660901345 (Presiden BEM REMA UPI 2013)Kamis, 05 Desember 2013
POTRET BANGSA ; Dedikasi Pemuda untuk Agama, Bangsa dan Tanah Air
Posted by Unknown | 02.12 Categories: Kemahasiswaan
*oleh : @dudi_economic
Jika
kita terbangun di pagi hari, ingin rasanya melihat negeri indonesia sudah dalam
keadaan yang maju, makmur dan sejahtera. Petani bisa menikmati hasil
garapannya, buruh bisa sejahtera dengan keringat nya, nelayan bahagia dengan
hasil tangkapannya, anak-anak bisa bersekolah tinggi menggapai cita-citanya.
Mengikuti apa yang kata guru SD-nya katakana kepada si anak ; “Anak-anak, gantunglah
cita-citamu setinggi langit..”, Namun kenyataan dilapangan tidak lah demikian.
Guru
SD saya pernah mengatakan : “Negara Indonesia sebenarnya adalah negara yang
kaya-raya, sumber daya alam nya melimpah ruah. Hanya saja kita tidak memiliki
Sumber Daya Manusia yang tidak memadai, sehingga kita tidak bisa mengurusi
sumber daya alam kita!”.
Dan
beberapa bulan yang lalu ketika saya sedang ada kelas mata kuliah Ekonomi
Sumber Daya, dosen saya berbicara tentang kondisi bangsa Indonesia.
Perkataannya kurang lebih sama. Persis dengan apa yang dikatakan guru SD saya,
“Negara Indonesia sebenarnya adalah negara yang kaya-raya, sumber daya alam nya
melimpah ruah. Hanya saja kita tidak memiliki Sumber Daya Manusia yang tidak
memadai, sehingga kita tidak bisa mengurusi sumber daya alam kita!”
Gila..!
Kemana aja kita? 10 tahun lebih masalah Indonesia sama, kita melewatkan waktu
begitu saja tanpa ada perubahan dan perkembangan pembangunan yang berarti.
Bahkan besar kemungkinan kita dalam keadaan yang merugi, dimana hari ini sama
dengan hari kemarin atau bahkan lebih buruk lagi, celaka.
Potret
Pembangunan Manusia Indonesia
Masalah
besar bangsa ini memang sangat pelik, yang kita soroti adalah permasalahan stagnasi pembangunan, dimana
perkembangan pembangunan Indonesia masih di situ-situ saja.
Kalau
kita menilik dari angka Human’s
Development Indeks (HDI) Indonesia saja, indonesia dibanding dengan
negara-negara lain masih sangat rendah.
Pada
tahun 2011 Indonesia menempati urutan ke 124 dari 187 negara yang disurvei,
dengan skor 0,617. Peringkat ini turun dari peringkat 108 pada tahun 2010. Di
kawasan ASEAN, Indonesia hanya unggul dari Vietnam yang memiliki nilai IPM
0,593, Laos dengan nilai IPM 0,524, Kamboja dengan nilai IPM 0,523, dan Myanmar
dengan nilai IPM 0,483. Indonesia juga masih jauh dari Singapura dengan nilai
0,866. Kemudian disusul Brunei dengan nilai IPM 0,838, disusul Malaysia
(0,761), Thailand (0,682,) dan Filipina (0,644). [1]
Fenomena
Disparitas (Kesenjangan) Pembangunan Indonesia
Selain
indeks pembangunan manusia nya, stagnasi pembangunan di Indonesia tentunya bisa
kita lihat dari angka disparitas (kesenjangan) pembangunan di indonesia. Disparitas
pembangunan antar wilayah masih merupakan masalah yang dihadapi bangsa
Indonesia. Indikator masih tingginya kesenjangan antar daerah dicerminkan ke
dalam empat masalah yaitu :
- Disparitas penyebaran penduduk dan ketenagakerjaan, Kita masih melihat fenomena di Indonesia peta persebaran penduduk masih hanya terpusat di pulau jawa, dengan jawa barat sebagai propinsi terpadat se-indonesia. begitu pula permasalahan ketanaga kerjaan,
- Disparitas tingkat kesejahteraan sosial ekonomi, dengan masih rendahnya peningkatan akses pendidikan, melek huruf, dan partisipasi sekolah yang terlihat dari rendahnya Indeks Pembangunan Manusia di seluruh wilayah Indonesia.
- Disparitas pertumbuhan ekonomi antar daerah, Bagaiman perekonomian hanya menggeliat di kota-kota besar. Suplay dana dari pemerintah yang hanya prioritaskan kepada kota besar akibatkan perekonomian daerah lemah. Sehingga investor pun tidak berminat tanamkan modalnya di daerah.
- Disparitas prasarana antar daerah yang sangat tinggi. Kita sudah mafhum tentunya fasilitas sarana dan pra sarana yang ada di Indonesia masih terjadi ketimpangan antar daerah. Fasilitas yang ada di kota-kota besar perbedaan nya sangat jauh dengan fasilitas yang ada daerah atau kota-kota di luar pulau jawa. Ini adalah ketidakadilan bagi rakyat Indonesia yang hidup jauh dari pusaran kekuasaan
Masalah
disparitas ini tidak bisa dijadikan masalah yang sepele, masyarakat yang jauh dengan pusaran uang dan pembangunan,
dimana mereka melihat perilaku manusia – manusia yang sangat dekat dengan
pusaran kekuasaan dan uang begitu berfoya-foya dan mempercontohkan pola
kehidupan yang glamor atau yang lebih
mengerikkan adalah perilaku para pemegang mandate rakyat yang justru bukan
mensejahterakan rakyat tapi mempertontonkoan perilaku kriminal yang merugikan
orang lain. Ya, dicontohkan dengan perilaku pejabat yang korup yang sudah
kehilangan integritas dan nurani.
Suatu saat
maslah ini bagaikan bom waktu dan menjelma menjadi masalah yang sangat besar
bagi Indonesia. Kesenjangan pembangunan dan pola perilaku yang glamor dan korup
dari para pejabat ini bisa akibatkan disintegrasi bangsa. Dimana rakyat di
daerah sudah tiidak percaya dengan pemerintahan yang terpusat di jawa,
khususnya ibu kota Jakarta.
Namun
saya masih percaya, bangsa ini masih punya harpan untuk bangkit dari kondisi
stagnasi pembangunan. Bangsa ini masih punya nyali besar untuk menunjukkan
kebesarannya dalam konstelasi pembangunan perekonomian global. Mewujudkan
bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.
Perbaikan
sistem pendidikan yang berorientasi pada proses.
Melihat
potret permasalahan bangsa diatas, hal pertama yang harus dibenahi adalah
sistem pendidikan, dimana sistem pendidikan nasional kita masih menganut sistem
pendidikan yang hanya berorientasi pada nilai, seolah tidak menghargai proses.
Ini dapat dilihat dari sistem evaluasi
nasional dalam sistem pendidikan nasional kita. Adanya ujian nasional
sebagai penentu kelulusan di berbagai jenjang pendidikan dasar dan menengah
kita, menjadi bukti sistem pendidikan nasional kita tidak menghargai proses.
Sehingga output dari sistem pendidikan nasional seperti itu menghasilkan
orang-orang yang ingin mendapatkan hasil dalam waktu singkat tanpa menghargai
proses.
Terlepas
dari kontroversi kemunculannya, Kurikulum 2013 yang baru memang menawarkan
konsep religiusitas yang cukup memberikan sinyal positif untuk membentuk dan
menjaga karakter bangsa untuk tetap memegang teguh karakter budaya bangsa dan
siap menjadi masyarakat dunia dengan berpegang teguh pada norma agama yang
dianut.
Permasalahan
disparitas dan pembangunan ekonomi akan dengan sendirinya bisa diatasi ketika
pendidikan sebagai corong perubahan bangsa serius dibenahi. Diawali dengan
perbaikan sistem pendidikan nasionalnya.
Optmalisasi
Bonus Demografi Indonesia dengan Ketaatan pada Norma Agama
Kita pernah mendengar sebuah prediksi para ahli demografis,
bahwa kedepan Indonesia akan mengalami bonus demografi, dimana angka usia
produktif atau pemuda akan meledak. Artinya kita akan memiliki usia produktif
yang begitu melimpah. Fenomena ini bisa menjadi potensi besar, artinya menjadi
sebuah keuntungan untuk kemajuan bangsa. Namun, potensi ini bisa berubah
menjadi bencana kektika kita tidak mampu memanfaatkan momentum ini.
Seorang
pemuda memiliki karakteristik yang sangat menarik, merekalah pribadi – pribadi
yang memiliki sifat pantang menyerah dalam berkarya, selalu memiliki ingin rasa
ingin tahu yang amat tinggi, mempunyai energi yang kuat dan fisik yang mumpuni.
Merekalah tulang punggung harapan bangsa ini.
Sejarah
membuktikan pemuda tidak pernah absen dalam perubahan perbaikan sebuah bangsa, mereka
adalah pilar kebangkitan sebuah bangsa. Ketika kita sulit untuk berharap kepada
generasi tua yang sudah banyak yang korup dan tidak punya integritas. Kita
harus terus menjaga karakter bangsa khususnya karakter dan akhlak para
pemuda-pemuda Indonesia. Utamanya dengan penetapan sistem pendidikan yang
menjaga karakter dan moral bangsa (pemuda).
Apabila
para pemuda memiliki basic charracter
tentang agama yang kuat, mereka taat dan
patuh akan aturan dan norma agama yang dianut, tentunya pemuda dengan karakter
tersebut sudah pasti akan memiliki rasa cinta akan negara nya, dan siap
berdedikasi untuk bangsa dan tanah air.
Mereka
yakin, mereka akan menjadi penyelamat dari krisis pembangunan bangsa dewasa
ini. Karena di pundak mereka semakin berlipat hak-hak rakyat Indonesia yang
harus segera ditunaikan. Pemuda Indonesia akan berfikir panjang untuk masa
depan bangsanya dan bijak dalam menentukan sikap politik.
Pemuda
harus tahu, bahwa amanah yang diembannya begitu besar. Sehingga butuh nurani
yang ikhlas dalam melakukan kerja – kerja besar untuk berjuang menjaga
kehormatan tanah air. Sungguh para pemuda haruslah bersemangat dalam
merealisasika ide dan amal untuk merebut sebuah kejayaan, karena begitu banyak
pengharapan dari rakyat Indonesia akan munculnya Indonesia baru yang
berkarkater dan berintegritas. Tidak ada pilihan lain untuk para pemuda untuk
merebut setiap kesempatan dalam melakukan kerja-kerja besar mewujudkan kejayaan
tanah air.
Sehingga benar saja seperti yang dikatakan salah satu tokoh pergerakan di mesir ; “Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya”.
Bisa
dibayangkan ketika pemuda-pemuda Indonesia memiliki ketaatan akan agamanya,
kesadaran akan dedikasi membangun bangsa, ikhlash menjalankan amanah tulang
punggung negara dan tidak ada kata ragu dalam beramal perjuangkan pembangunan,
maka cita-cita Indonesia madani bukan hanya mimpi.
Wallahu 'alam bisshowab..
|
|
| Dudi Septiadi |
*Penulis : Presiden Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
|
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FPEB UPI
|
[1]
Nissia Putri Rahayu, IPM Indonesia 2012 ; Makalah Seminar Ekonomi
Langganan:
Postingan (Atom)










